Senin, 03 Oktober 2011

PsikoSeks : Gila-Gilaan liatin PSK

Skali lagi aku gak pernah ambil ni mata kuliah? Tapi aku rasa aku ingin berbicara tentang pembicaraan yang menarik ini. Seks, kebutuhan biologis manusia untuk melanjutkan keturunan dan spesiesnya. Jangan sampe spesies manusia punah sehingga tahun 3000 nanti bumi ini akan dihuni oleh para sinpanse. Mulai dari sinpanse yang jadi Polisi, jadi Presiden, hingga jadi psikolog. Kacau ...
Yap, sore ini seperti biasa aku melakukan kegiatan rutinku, yaitu Bengong. Kali ini yang menjadi tempat bengongku adalah MAJT atau Masjid Agung Jawa Tengah. Masjid yang luas ini sering menjadi tempat tujuan utama bagi mereka-mereka para mahasiswa yang sudah diwisuda. Aku gak ngerti kenapa? Pasti klo abis wisuda banyak teman-temanku atau senior-seniorku yang foto-foto ma keluarganya di sini? Mungkin karena juga masuknya murah klo pake kendaraan, yaitu motor roda dua cukup Rp 500,-
Setelah maghrib tercetuslah insting liarku untuk melewati para PSK (Pekerja Seks Komersial) di sepanjang jalan antara stasiun Poncol dan PLN atau UNISBANK. Sebenarnya ini bukan pertama kali aku melewati daerah-daerah semacam itu. Pertama kali aku melewati daerah semacam itu, yaitu di SK (Sunan Kuning) tempat lokalisasi terbesar di Semarang. Bukan kesengajaan karena diajak ma temen-temen cungukku abis nasgoran di depan Bandara. Luar biasa bukan main aku sepanjang jalan kawasan itu hanya dihiasi oleh Wisma-Wisma yang dipajangi wanita-wanita berpakaian serba seksi. Ada sich yang keliatan gendut tapi tetap maksain pake pakaian seksi, malah keliatan kaya Babi pake bikini, "Emang ada yang mau ya ma dia?" "Itu mamihnya tau, Germonya" "Ooooh" Oh ya buat masuk ke situ bayar uang retribusi sekitar Rp 5000an
Keluar-keluar dari kawasan SK, betapa kagetnya aku ternyata kawasan sangat dekat dengan Agen Bus Nusantara langgananku klo mau pulang ke rumah. "Owalah Jan, ini aku mah sering ke sini" "Heh?" "Iya, ini tempat bus langgananku, cuman klo siang mungkin PSKnya ga berkeliaran kali ya? hehe"
Enaknya jadi mahasiswa Psikologi klo dateng ke kawasan kaya gitu bisa jadi alasan logis buat melakukan Observasi Psikologi Sosial. Haha ... "Kamu ke lokalisasi ngapain?" "Ah, cuman Observasi Sosial aja, kan kita mahasiswa psikologi? hihi" Apalagi waktu aku ke SK aku pake jaket angkatan bertuliskan Psycho Addict'06.
Kedua, kawasan lokalisasi yang aku lewati adalah depan Rumah Sakit Ken Saras Ungaran. Klo lu lu mau ke Jogja or Solo malem-malem biasanya para PSKnya akan terlihat di pinggir jalan. Konon klo yang ini langganannya para supir. Klo di SK konon langganannya beberpa pejabat, or para eksekutif-eksekutif.
Baik, kita kembali ke operasi gila-gilaanku malam ini. Sehabis makan ba'da maghrib, aku langsung meluncur ke TKP. Ternyata masih sepi? Hmm, kenapa ya? Hanya terlihat bapak-bapak sedang menata kasur di sebuah emperan toko. Tak jauh dari situ ada seorang Satpol PP sedang makan di sebuah angkrngan. Aku jadi bingung, sedang apa tu bapak Satpol PP sendirian? Bukannya biasanya mereka suka nguber-nguber para PSK buat dijaring. Okay, mungkin mereka belum keluar para PSKnya. Aku sholat Isya dulu dan ngisi pulsa, karena pulsaku habis. SMS ke temenku tadi pagi ternyata ga terkirim. Kebiasaan burukku jarang ngecek pulsa, tiba-tiba pulsa habis begitu saja.
Setelah sholat Isya, aku meluncur lagi ke TKP. Hmmm, mulai muncul satu dua orang PSK. Ngenesnya ada juga yang masih remaja sekolahan (aku gak tau dia sekolah atau gak?) yang jelas tubuhnya ceking (ni bahasa halusnya daripada ramping, aku heran ma iklan-iklan diet kenapa gak ada yang make istilah ini, "Tubuh Anda ingin ceking? Minum 'DJEFWHDW' Tubuh Ceking itu seksi lho"). Eh, dianya sempet ngelirik ke aku! Hwaaaa!!!! Kabuuuur.... Baiklah, kita nongkrng dulu di kawasan Simpang 5, nunggu jam 8 malem.
TENG Jam 19.55 WIB aku beraksi lagi. Ayo ke TKP. Aku deg degan kali ini, karena tadi udah dilirik ma satu cewek. Dikiria bener-bener lagi nyari cewek buat dikencanin. Baik Tarik nafas, hembuskan lewat telinga, baca Bismillah dulu, 'Ya Alloh aku memohon perlindungan-Mu' Tancap Bosss.
Setibanya di TKP, kini mulai banyak juga, gak jauh dari bapak-bapak yang gelar kasur tadi terlihat ada wanita agak gembrot pake pakaian seksi, aku mikir, "Ni beneran PSKnya?" maju dikit Pak Satpol PP ternyata baru mau pergi. Maju dikit di sebuah angkringan ternyata ada lumayan banyak para Tante-Tante berpakaian seksi pada ngegerombol di situ. Yang aku terkejut di situ ada bocah laki-laki lagi telanjang bulet lagi mandi byar - byur. Ngapain tu bocah umbelen di situ??? Klo anak itu adalah anak dari salah satu Tante-Tante itu aku merasa kasihan, karena sekecil itu harus melihat pekerjaan Ibunya. Maju dikit lagi cewek yang tadi ngelirik aku masih ada di situ, MASIH ADA DI SITU!!! (Diulangin aja biar seru, hahay). Gak jauh dari situ ada lagi sedang bertengger di atas matic.
Yap, itu gila-gilaanku hari ini. Klo ada yang tanya kok aku bisa tau kawasan kaya itu, pertama karena gak sengaja aja lewat kawasan itu. Karena aku sering banget lewat situ apalagi klo habis pulang dari rumah Budheku di Tanah Mas atau dari Stasiun Poncol. Biasanya lebih banyak dari sekarang, mereka biasanya membawa motor. Aku lupa namanya PSK jenis apa? Tapi saranku jangan sekali-kali membunyikan klakson ketika melewati mereka. Karena ntar dikira lu ge cari cewek buat diajak kencan. Transaksi biasanya terjadi dalam perjalanan itu. Kok aku bisa tau??? Biasalah langganan... hehe... bukan makanya baca dong koran, bacanya majalah porno mulu lu.
Hurray... gila-gilaanku selesai, sekarang pulang ke kost lewan Simongan. Jauh? Biarin. Pulang itu aku mikir, seorang teman sebut aja bernama Iwan (namanya emang Iwan. hwehehe), pernah cerita ke aku, klo PSK yang bener-bener profesional tu mereka gak cuman dagangin tubuh mereka. Ada pelanggan yang datang ke mereka hanya untuk curhat, gila cuman curhat Men!! Masalah seks, mereka sangat puas dengan istrinya, tapi satu hal yang ga didapat dari istrinya, yaitu istrinya terlalu sibuk atau waktu untuk suaminya hanya untuk sekedar curhat gak tersedia. Sedangkan masalah yang dialaminya begitu beragam, mulai dari masalah di kantor atau masalah di mana pun dia temui. Dalam posisi ini, aku merasa bahwa profesi psikologi ternyata tersaingi oleh PSK-PSK itu. Hedeeh. Mereka tetap dibayar hanya buat dengerin si bapak-bapak itu. Semoga bisa buat evaluasi profesi psikologi.
Pernah aku berpikir, kok ada yang mau ya kerjaan kayak gitu??? Tiap hari cuman kaya gituan terus. Eh, belum tentu mereka sebenernya suka dengan kerjaan itu. Ada yang terpaksa. Misalnya perempuan-perempuan desa yang diiming-imingi kerjaan di kota, kemudian sampenya di kota dia diperkosa dulu, setelah itu dipekerjakan di Lokalisasi. Faktor ekonomi terkadang yang akhirnya mereka tidak memiliki pilihan untuk bekerja seperti itu.
Keinginan buat tobat? Selalu ada dalam diri beberapa dari mereka. Hanya saja terkadang tidak ada yang mau menyentuh keberadaan mereka. Ada sebuah LSM di kawasan lokalisasi Doli di Surabaya yang memang berfokus untuk memberikan bimbingan ruhani dan motivasi kepada para PSK itu. Mereka ingin berubah, mereka ingin hidup tanpa dosa lagi. 
Inget cerita seorang Ustad, klo dulu ada seorang peremuan pelacur yang memberikan minum pada sepotong anjing (emangnya sosis??) seekor anjing, kemudian perempuan itu meninggal dan dia masuk surga. Tapi ada ahli agama yang rajin beragama tapi mati malah masuk neraka. Klo ma orang oon ini bisa dijadikan pembenaran, tapi konteksnya bukan pada hal itu. Tapi, kata si pak Ustad tu bilang kuncinya pada keikhlasan (Ce Ilee). Si pelacur itu dia terpaksa, dia tetap berontak dalam dirinya tentang pekerjaannya itu. Sedangkan si ahli agama itu rajin ibadah cuman biar bisa dipuji orang. Nah Lho!!!
Ya lu lu para wanita yang masih bisa hidup secara layak, seharunya bersyukur. Bagi aku, gak mau munafik klo aku juga mengenal dunia-dunia seperti itu. Misalnya, dikerjain ma temen-temen kuclukku semasa SMP buat nonton film Vampire, yang ternyata isinya film tek dung an gitu. Mau lari ke mana coba?? Mau tutup mata, suaranya masih kedengaran. Sehingga istilah dunia per ******* (sensor) juga aku paham. Tapi, ya itu enaknya jadi orang psikologi tu semuanya bisa dijadiin bahan pembelajaran.
Ya lu yang masih bersih dari hal-hal semacam itu bersyukur aja, Tuhan masih melindungi kamu dari hal-hal semacam itu. Hanya saja aku meyakini satu hal bahwa seburuk-buruk manusia yang nyadar, dia masih punya kewajiban menasehati kepada lainnya, minimal menasehati,"Lu jangan ikut-ikutan kaya aku, cukup aku aja yang terjebak ma dunia seperti ini." Biar dirinya bisa dijadikan pelajaran bagi lainnya. Tapi, menuju proses kebaikan itu terus dilakukan meskipun kaya disampein ma lagu dangdut, 'Jatuh Bangun Aku Mengejarmu.'
SKriPSIku, hari ini ada penmabahan dikitlah. Meskipun aku ge cri-cari buku referensi belum nemu juga...
See Ya next Time ...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar